Senin, 25 September 2017

DALIL ZIARAH KUBUR,DAN SAMPAIKAH PAHALA DOA DAN BACAAN ALQURAN KEPADA SI MAYIT??

DALIL ZIARAH KUBUR, DAN SAMPAIKAH PAHALA DOA DAN BACAAN ALQURAN  KEPADA MAYIT ???

كُنْتُ نَهَيْتُكُم عَنْ زِيَارَةِ القُبُورِ, فَزُورُوهَا, وَفِي

رِوَايَةٍ فَإنَّهَا تُذَكِّرُكُم.. بالآخرة

“Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, namun kini berziarahlah kalian!. Dalam riwayat lain; ‘(Maka siapa yang ingin berziarah kekubur, hendaknya berziarah), karena sesungguhnya (ziarah kubur) itu mengingat- kan kalian kepada akhirat’. (Shahih Muslim hadits no.977 dan 1977)

Tentang amalan terputus bagi si mayit bagaimana??

BERLANDASKAN

Hadits riwayat Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad:

عَنْ أبِى هُرَيْرَة (ر) أنَّ رَسُول الله .صَ. قَالَ: إذَا مَاتَ الإنسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ:

(صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ, اَووَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ (رواه ابو داود)

“Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim).

INI ADALAH TENTANG SI MAYIT, BUKAN TENTANG YANG AKAN KIRIM PAHALA KEPADA SI MAYIT......

karena Rasulullah SAW menjelaskan terputusnya amal si mayyit, bukan amal orang lain yg dihadiahkan untuk si mayyit, dan juga sebagai hujjah bahwa Allah memerintahkan di dalam Al Qur'an untuk mendoakan orang yg telah wafat :

"WAHAI TUHAN KAMI AMPUNILAH DOSA-DOSA KAMI DAN BAGI SAUDARA-SAUDARA KAMI YG MENDAHULUI KAMI DALAM KEIMANAN"

(QS Al Hasyr-10).

DIKUATKAN LAGI DENGAN

Ali bin Abi Thalib k.w.
bahwa Rasul SAW bersabda:

Barangsiapa lewat melalui kuburan, kemudian ia membaca
Qul Huwallahu Ahad 11x dengan niat menghadiahkan pahalanya pada para penghuni kubur, ia sendiri akan memperoleh sebanyak yang diperoleh semua penghuni kubur.

Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwasanya Nabi SAW bersabda:

Barangsiapa yang berziarah di kuburan, kemudian ia membaca
Al Fatihah
Qul Huwallahu Ahad
Alhakumut takatsur
Lalu ia berdoa : Ya Allah, kuhadiahkan pahala pembacaan firmanMu pada kaum Mu'minin dan Mu'minat penghuni kubur ini, maka mereka akan menjadi penolong baginya(pemberi syafaat) pada hari kiamat.

Hadits-hadits tersebut diatas dijadikan dalil yang kuat oleh para ulama untuk menfatwakan kebolehan membaca Al Quran bagi orang yang telah wafat.

Imam Nawawi dalam Syarhul Muhadzdzib mengatakan:

Disunnahkan bagi orang yang berziarah ke kekuburan membaca beberapa ayat Al Qur'an dan berdoa untuk penghuni kubur.
Pernyataan ini dibenarkan oleh Imam Syafi'i dan disepakati bulat oleh para sahabatnya.

Setelah menjelaskan pendapat-pendapat dan fatwa para ulama dari empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali), Imam Nawawi menyimpulkan bahwa ;

Membaca Al Qur'an bagi arwah orang-orang yang telah wafat dilakukan juga oleh kaum Salaf.

Imam Nawawi mengutip penegasan Syaikh Taqiyyuddin Abul Abbas Ahmad bin Taimiyyah yang menegaskan:

Barangsiapa berkeyakinan bahwa seseorang hanya dapat memperoleh pahala dari amal perbuatannya sendiri, ia menyimpang dari ijma.
Para ulama dan dilihat dari berbagai sudut pandang, keyakinan demikian itu tidak dapat dibenarkan.

Berkata Imam Nawawi, Yang lebih terkenal dari madzhab Syafi'i, bahwa pahalanya tidak sampai pada mayat. Sedangkan menurut Ahmad bin Hanbal, dan segolongan sahabat-sahabat Syafi'i, sampai (pahalanya) kepada mayat.

Bagi yang memakai imam Syafi'i Maka sebaiknya setelah membaca, si pembaca mengucapkan:

" Ya Allah, sampaikanlah pahala seperti pahala bacaan saya itu kepada si Fulan bin Fulan"

Hanya saja disyaratkan agar si pembaca tidak menerima upah atas bacaannya itu. Jika diterimanya, haramlah hukumnya, baik bagi si pemberi maupun si penerima, sedang bacaannya itu hampa, tidak beroleh pahala apa-apa.

BAGAIMANA DENGAN SEDEKAH??

Imam Nawawi telah menceritakan adanya ijma. bahwa sedekah berlaku atas mayat dan sampai pahala padanya, baik ia berasal dari anak, maupun dari lainnya.

Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, Ayahku meninggal dunia, dan ia meninggalkan harta serta tidak memberi wasiat. Apakah dapat menghapus dosanya bila saya sedekahkan?
Ujar Nabi SAW, "Dapat"

[HR. Ahmad, Muslim dari Abu Hurairah]

Dan tidak disyariatkan mengeluarkan sedekah itu di pekuburan, dan makruh hukumnya bila dikeluarkan beserta jenazah.

Diriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a katanya: Seorang wanita telah datang menemui Rasulullah s.a.w dan berkata:

Ibuku telah meninggal dunia dan masih mempunyai puasa ganti selama sebulan. Baginda bertanya kepada wanita itu dengan sabdanya: Bagaimana pendapatmu jika ibumu itu masih mempunyai hutang, adakah kamu akan membayarnya? Wanita itu menjawab: Ya.
Lalu Rasulullah s.a.w bersabda: Hutang kepada Allah itu lebih berhak untuk dibayar.
(HR. Bukhori dan Muslim)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabi SAW lalu bertanya, Ibuku bernadzar akan melakukan haji, tapi belum juga dipenuhinya sampai ia meninggal. Apakah akan saya lakukan haji itu untuknya? Ujar Nabi SAW, ?Ya, lakukanlah! Bagaimana pendapatmu jika ibumu berhutang, adakah kamu akan membayarnya? Bayarlah, karena Allah lebih berhak untuk menerima pembayaran.(HR. Bukhori)

Diriwayatkan oleh Daruquthni bahwa seorang laki-laki bertanya, Ya Rasulullah SAW, saya mempunyai ibu bapak yang selagi mereka hidup, saya berbakti kepadanya. Maka bagaimana caranya saya berbakti kepada mereka, setelah mereka meninggal dunia?
Ujar Nabi SAW :
Berbakti setelah mereka meninggal, caranya ialah dengan melakukan shalat untuk mereka disamping shalatmu, dan berpuasa untuk mereka disamping puasamu.

Berkata Ibnu Ukeil, Jika seseorang melakukan amal kebajikan seperti shalat, puasa, dan membaca Al Qur`an dan dihadiahkannya, artinya pahalanya diperuntukkannya bagi mayat muslim, maka amal itu didahului oleh niat yang segera disertai dengan perbuatan.

Dalam Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah: Berkata Ahmad bin Hanbal, Apa pun macam kebajikan, akan sampai kepada si mayat, berdasarkan keterangan-keterangan yang diterima mengenai itu, juga disebabkan kaum muslimin biasa berkumpul di setiap negeri dan membaca Al-Qur`an lalu menghadiahkannya kepada orang-orang yang telah meninggal di antara mereka, dan tak seorang pun yang menentangnya, hingga telah merupakan ijma.

Menghadiahkan Fatihah, atau Yaasiin, atau dzikir, Tahlil, atau shadaqah, atau Qadha puasanya dan lain lain, itu semua sampai kepada Mayyit, dengan Nash yg Jelas dalam

Shahih Muslim hadits no.1149,

“seorang wanita bersedekah untuk Ibunya yg telah wafat dan diperbolehkan oleh Rasul saw”, dan adapula riwayat Shahihain Bukhari dan Muslim bahwa “seorang sahabat menghajikan untuk Ibunya yg telah wafat”, dan Rasulullah SAW pun menghadiahkan Sembelihan Beliau SAW saat Idul Adha untuk dirinya dan untuk ummatnya, “Wahai Allah terimalah sembelihan ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari Ummat Muhammad”
(Shahih Muslim hadits no.1967).

dan hal ini (pengiriman amal untuk mayyit itu sampai kepada mayyit) merupakan Jumhur (kesepakatan) Ulama seluruh madzhab dan tak ada yg memungkirinya apalagi mengharamkannya, dan perselisihan pendapat hanya terdapat pada madzhab Imam Syafi’i, bila si pembaca tak mengucapkan lafadz : “Kuhadiahkan”, atau wahai Allah kuhadiahkan sedekah ini, atau dzikir ini, atau ayat ini..”, bila hal ini tidak disebutkan maka sebagian Ulama Syafi’iy mengatakan pahalanya tak sampai.

Jadi tak satupun ulama ikhtilaf dalam sampai atau tidaknya pengiriman amal untuk mayiit, tapi berikhtilaf adalah pd Lafadznya.
Demikian pula Ibn Taimiyyah yg menyebutkan 21 hujjah (dua puluh satu dalil) tentang Intifa’ min ‘amalilghair (mendapat manfaat dari amal selainnya). Mengenai ayat :
"DAN TIADALAH BAGI SESEORANG KECUALI APA YG DIPERBUATNYA, maka Ibn Abbas ra menyatakan bahwa ayat ini telah mansukh dg ayat “DAN ORAN ORANG YG BERIMAN YG DIIKUTI KETURUNAN MEREKA DENGAN KEIMANAN”,

Mengenai rangkuman tahlilan itu, tak satupun Ulama dan Imam Imam yg memungkirinya, siapa pula yg memungkiri muslimin berkumpul dan berdzikir?, hanya syaitan yg tak suka dengan dzikir.
Didalam acara Tahlil itu terdapat ucapan Laa ilaah illallah, tasbih, shalawat, ayat qur’an, dirangkai sedemikian rupa dalam satu paket dg tujuan agar semua orang awam bisa mengikutinya dengan mudah, ini sama saja dengan merangkum Al Qur’an dalam disket atau CD, lalu ditambah pula bila ingin ayat Fulani, silahkan Klik awal ayat, bila anda ingin ayat azab, klik a, ayat rahmat klik b, maka ini semua dibuat buat untuk mempermudah muslimin terutama yg awam.
Atau dikumpulkannya hadits Bukhari, Muslim, dan Kutubussittah, Alqur’an dengan Tafsir Baghawi, Jalalain dan Ilmu Musthalah, Nahwu dll, dalam sebuah CD atau disket, atau sekumpulan kitab,
bila mereka melarangnya maka mana dalilnya ?,

munculkan satu dalil yg mengharamkan acara Tahlil?, (acara berkumpulnya muslimin untuk mendoakan yg wafat) tidak di Al Qur’an, tidak pula di Hadits, tidak pula di Qaul Sahabat, tidak pula di kalam Imamulmadzahib, hanya mereka saja yg mengada ada dari kesempitan pemahamannya.

Mengenai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, atau bahkan tiap hari, tak ada dalil yg melarangnya, itu adalah Bid’ah hasanah yg sudah diperbolehkan oleh Rasulullah saw, justru kita perlu bertanya, ajaran muslimkah mereka yg melarang orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, siapa yg alergi dengan suara Laa ilaaha illallah kalau bukan syaitan dan pengikutnya ?, siapa yg membatasi orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, muslimkah?, semoga Allah memberi hidayah pada muslimin, tak ada larangan untuk menyebut Laa ilaaha illallah, tak pula ada larangan untuk melarang yg berdzikir pada hari ke 40, hari ke 100 atau kapanpun, pelarangan atas hal ini adalah kemungkaran yg nyata.

Bila hal ini dikatakan merupakan adat orang hindu, maka bagaimana dengan computer, handphone, mikrofon, dan lainnya yg merupakan adat orang kafir, bahkan mimbar yg ada di masjid masjid pun adalah adat istiadat gereja, namun selama hal itu bermanfaat dan tak melanggar syariah maka boleh boleh saja mengikutinya, sebagaimana Rasul saw meniru adat yahudi yg berpuasa pada hari 10 muharram, (shahih Bukhari) bahwa Rasul saw menemukan orang yahudi puasa dihari 10 muharram karena mereka tasyakkur atas selamatnya Musa as, dan Rasul saw bersabda : Kami lebih berhak dari kalian atas Musa as, lalu beliau saw memerintahkan muslimin agar berpuasa pula”
(HR Shahih Bukhari hadits no.3726, 3727).

Sebagaimana pula diriwayatkan bahwa Imam Masjid Quba di zaman Nabi saw, selalu membaca surat Al Ikhlas pada setiap kali membaca fatihah, maka setelah fatihah maka ia membaca AL Ikhlas, lalu surat lainnya, dan ia tak mau meninggalkan surat al ikhlas setiap rakaatnya, ia jadikan Al Ikhlas sama dengan Fatihah hingga selalu berdampingan disetiap rakaat, maka orang mengadukannya pada Rasul saw, dan ia ditanya oleh Rasul saw : Mengapa kau melakukan hal itu?, maka ia menjawab : Aku mencintai surat Al Ikhlas. Maka Rasul saw bersabda : Cintamu pada surat Al ikhlas akan membuatmu masuk sorga” (Shahih Bukhari).

Maka tentunya orang itu tak melakukan hal tsb dari ajaran Rasul saw, ia membuat buatnya sendiri karena cintanya pada surat Al Ikhlas, maka Rasul saw tak melarangnya bahkan memujinya.

Kita bisa melihat bagaimana para Huffadh (Huffadh adalah Jamak dari Al hafidh, yaitu ahli hadits yg telah hafal 100.000 hadits (seratus ribu) hadits berikut sanad dan hukum matannya) dan para Imam imam mengirim hadiah pd Rasul saw :
•Berkata Imam Alhafidh Al Muhaddits Ali bin Almuwaffiq rahimahullah : “aku 60 kali melaksanakan haji dengan berjalan kaki, dan kuhadiahkan pahala dari itu 30 haji untuk Rasulullah saw”.
•Berkata Al Imam Alhafidh Al Muhaddits Abul Abbas Muhammad bin Ishaq Atssaqafiy Assiraaj : “aku mengikuti Ali bin Almuwaffiq, aku lakukan 7X haji yg pahalanya untuk Rasulullah saw dan aku menyembelih Qurban 12.000 ekor untuk Rasulullah saw, dan aku khatamkan 12.000 kali khatam Alqur’an untuk Rasulullah saw, dan kujadikan seluruh amalku untuk Rasulullah saw”.
ia adalah murid dari Imam Bukhari rahimahullah, dan ia menyimpan 70 ribu masalah yg dijawab oleh Imam Malik, beliau lahir pada 218 H dan wafat pada 313H
•Berkata Al Imam Al Hafidh Abu Ishaq Almuzakkiy, aku mengikuti Abul Abbas dan aku haji pula 7X untuk rasulullah saw, dan aku mengkhatamkan Alqur’an 700 kali khatam untuk Rasulullah saw. (Tarikh Baghdad Juz 12 hal 111).

Wallahu a’lam

Jumat, 22 September 2017

Makna Sayidina Dalam Solawat dan Solat

Oleh: Ustadz Jakfar Alhaddar Sangata, Alumi Mahad Sunniyah Salafiyah Pasuruan

Imam Ibnu Hajar Al Haitsami dalam kitabnya Addurul-Mandhud hal.79 mengatakan:

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai penambahan kata “Sayyidina” di dalam shalawat ketika shalat. Menurut Al Majd al Lughawi: “Zahirnya hendaknya tidak menambah lafad Sayyidina untuk menyesesuaikan dengan lafadz shalawat yang datang dari Nabi Muhammad SAW.”

Sedangkan al Isnawi mengatakan, “Seingatku, Syaikh Izzuddin bin Abdissalam mendasari hukum masalah ini dengan qoidah ‘Apakah yang lebih utama mematuhi perintah ataukah menjaga adab?’ Jika kita mengikuti pendapat kedua (menjaga adab) maka dianjurkan untuk menambahkan Sayyidina.”
Pendapat inilah (anjuran menambahkan sayyidina) yang aku condong kepadanya di dalam Syarah Irsyad atau lainnya berdasarkan peristiwa ketika Nabi Muhammad SAW datang saat itu Sayyidina Abu Bakar RA menjadi imam, maka Beliau RA mundur karena melihat Nabi saw, lalu Nabi Muhammad saw memerintahkan beliau untuk tetap di tempatnya akan tetapi Sayyidina Abu Bakar tidak mematuhi perintah itu. Selepas shalat, Nabi Muhammad Saw menayakan alasannya, dan Beliau RA mengungkapkan bahwa perbuatan beliau itu adalah bentuk menjaga adab. Beliau mengatakan:

ما كان ينبغي لابن أبي قحافة أن يتقدم بين يدي رسول الله صلى الله عليه وسلم

Tidak pantas bagi Anak Abu Quhafah (Beliau sendiri) untuk berdiri di depan Rasulullah SAW.

Nabi SAW pun mengakui pendapat ini. Ini adalah dalil terkuat bahwa menjaga adab lebih utama daripada mematuhi perintah yang diketahui bahwa perintah itu sifatnya tidak memaksa.

Kemudian aku melihat Ibnu Taimiyah berfatwa agar meninggalkan kata Sayyidina dan membahasnya panjang lebar. Dia menyebutkan pula bahwa sebagian ulama Hanabilah dan Syafiiyah menyanggahnya dan banyak juga mencelanya. Dia memang layak untuk dicela. Karena telah datang dalil-dalil yang membolehkan menambah lafad sayyidina ketika bersholawat. Di antaranya adalah ucapan Sahabat Ibnu Masud:

حسنوا الصلاة على نبيكم

Perbaguslah dalam bershalawat kepada Nabi kalian.

Beliau juga menyebutkan caranya yaitu dengan berkata:

علي سيد المرسلين

Kepadaa Sayid (pemimpin) para rasul).

DI sini disebutkan kata sayyid oleh Sahabat Ibnu Masud. Dan perkataan beliau ini sifatnya umum baik di dalam shalat ataupun di luar shalat.

Dinukilkan pula dari al Muhaqqiq, Jalaluddin al Mahali, beliau berkata: “Yang bagus adalah menjaga adab sekaligus mendatangkan apa yang diperintahkan (yaitu shalawat). Sholawat sesuai perintah beserta beradab kepada Nabi Muhammad saw bisa didapatkan dengan menyebutkan Sayyid di dalam sholawat. Dalam hadits Shahihain, Nabi Muhammad SAW bersabda:

قوموا الى سيدكم

“Berdirilah kalian untuk sayyid (pemimpin) kalian.”

Sayyid Yang Nabi Muhammad SAW maksud adalah Sahabat Saad bin Muadz, beliau menyandang titel sayyid karena keilmuannya dan agamanya.
Begitupula ucapan orang yang bershalawat:
اللهم صل على سيدنا محمد

Ya Allah limpahkan shalawat kepada junjungan kami Muhammad saw

Dengan menyebut sayyidina di dalam sholawat maka telah mendatangkan apa yang diperintah yaitu shalawat ditambah dengan menjaga adab dengan menambahkan sayyidina yang sifat nyata bagi Nabi Muhammad SAW. Pendapat ini lebih baik daripada tidak menyebutkannya, sebagaimana menjadi jelas dengan melihat hadits di atas. Meskipun Syaikh Jamaluddin al Isnawi masih ragu mengenai keafdholannya, beliau mengatakan, “Seingatku, Syaikh Izzuddin bin Abdissalam mrndasari hukum masalah ini kepada qoidah ‘Apakah yang lebih utama adalah mematuhi perintah ataukah menjaga perintah?’”

Sebagian daripada ulama yang mensyarahi Al Hawi berkata bahwa menambahkan kata sayyidina dapat membatalkan shalat. Ini adalah pendapat yang jelas-jelas salah dan harus dihindari.

Sedangkan mengenai penambahan kata Sayyidina di luar shalat, itupun masih ada yang melarangnya. Mereka berdalil dengan larangan Nabi SAW atas orang yang mengatakan kepada beliau:
انت سيدنا
Engkau adalah Sayyid (pemimpin) kami.

Dalil mereka tidak tepat.
Sebab yang diinkari Nabi Muhammad saw adalah karena pujian berlebihan yang mereka sampaikan setelah ucapan ini. Ini dibuktikan dengan sabda Nabi SAW:

قولوا بقولكم ولا تستهويكم الشيطان

Ucapkanlah perkataan kalian yang tadi dan jangan sampai Setan menyesatkan kalian
Telah shahih pula bahwa Nabi SAW menyebut dirinya dengan sayyid dalam sabdanya:

انا سيد ولد ادم

Aku Sayyid (pemimpin) keturunan Adam

Beliau juga menjuluki Sayid kepada Al Hasan. Beliau berkata:

إن ابني هذا سيد

Putraku ini adalah seorang Sayyid
Dan beliau juga menjuluki Saad dengan Sayyid. Beliau mengatakan:

قوموا الى سيدكم

Berdirilah kalian untuk sayyid (pemimpin) kalian

Mudah-mudahan catatan diatas bisa mengajarkan kita untuk selalu beradab kepada Nabi Muhammad saw.

Wallahu a’lam.
Sumber: Forsansalaf.com

Senin, 04 September 2017

ANGGOTA TUBUH ANAK Yang Perlu DiCIUM ORANGTUA

Facebook/MAJELIS TA'LIM HABIB ALI KWITANG

Bismillah..
ANGGOTA TUBUH ANAK Yang Perlu DiCIUM ORANGTUA Setiap Hari
Mari lahirkan rasa kasih dalam diri anak-anak melalui sifat ibu bapaknya yang penyayang.
Berikut ini adalah saran kami sebagai psikolog islam yang sebaiknya diamalkan setiap hari terhadap anak-anak.
CIUMAN KASIH SAYANG
1. Di ubun-ubun
menunjukkan kebanggaan orangtua terhadap anak sambil didoakan agar menjadi anak soleh/sholehah, aamiin.
2. Di dahi
menandakan orangtua redha atas keberadaan anak.
Rasulullah s.a.w mencium Fatimah radiallahu anha di dahinya.
3. Di kedua pipi
sambil mengucap masya Allah, sebagai tanda _syauq_ (perasaan sayang dan rindu) orangtua terhadap anak.
4. Di tangan anak
tanda _mawaddah wa hubb_ (kasih sayang) sambil mengucap _barakallah_, sebagaimana Rasulullah s.a.w juga selalu mencium tangan putri tercinta : Fatimah r.a.
SENTUHAN SAYANG
1. Menggosok belakang kepala anak, sebagai tanda kasih sayang dan perlindungan.
2. Menggosok atas kepala atau ubun-ubun, menunjukkan kebanggaan orangtua terhadap anak.
3. Mengusap dahi, sebagai tanda _syauq_ (perasaan sayang dan rindu) terhadap anak.
4. Kedua pipi, juga tanda _mawaddah wa hubb_ (kasih sayang)
5. Memegang kedua tangan, untuk menenangkan anak ketika perasaannya tampak kacau atau bingung.
Perhatian :
Usaplah dada anak sambil istighfar saat ia menunjukkan kecenderungan berbuat salah atau sedang marah, untuk menenangkannya.
Lakukan tindakan mawaddah warohmah ini diiringi kalimat2 thoyyibah.

Semoga bermanfaat.
# Muhasabah untuk diri sendiri
Barakallahu Fiikum

Senin, 14 Agustus 2017

Pesan Ayah untuk Anak


Telaga kesabaran

Muhammad Hamdani
(Santri Ribath asal Pontianak)

Seorang ayah dan laki-laki muda :
Ayah, ayah kata sang anak
Ada apa? tanya sang ayah..
aku capek, sangat capek
aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek aku mau menyontek saja!
aku capek. sangat capek
aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja!
aku capek, sangat capek
aku cape karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung aku ingin jajan terus!
aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati
aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku
aku capek ayah, aku capek menahan diri aku ingin seperti mereka.. mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! sang anak mulai menangis
Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata  anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu , lalu sang ayah menarik tangan sang anak . kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang, lalu sang anak pun mulai mengeluh
ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang aku benci jalan ini ayah" sang ayah hanya diam.
Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang.
Wwaaaah tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini ! sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.
Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.
  Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal tempat ini begitu indah?  Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?
  Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu
Ooh berarti kita orang yang sabar ya yah? alhamdulillah
  Nah, akhirnya kau mengerti
Mengerti apa? aku tidak mengerti
  Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga dan akhirnya semuanya terbayar kan? ada telaga yang sangatt indah.. seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku
Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar
Aku tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat  begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi  ingatlah anakku ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri  maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri  seorang pemuda muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya  maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang  maka kau tau akhirnya kan?
 
Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini  sekarang aku mengerti  terima kasih ayah, aku akan tegar saat yang lain terlempar
Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.

http://www.pejuangislam.com

Senin, 07 Agustus 2017

Ilmu ORANG TUA

Ilmu orang tua adalah pengetahuan akal dan kesadaran batin bahwa ia akan mati, dan itu bisa berlaku tidak 30 tahun yang akan datang, melainkan bisa juga besok pagi-pagi menjelang seseorang masuk kantor. Orang tua yang berpikir efisien tidak menghabiskan tenaga dan waktunya untuk kesementaran, melainkan untuk keabadian. Tidak menumpahkan profesionalisme untuk menggapai sesuatu yang toh tidak akan menyertainya selama-lamanya.

Ilmu orang tua adalah kesanggupan memilih satu dua yang abadi di antara seribu dua ribu yang temporer. Memilih satu dua yang sejati di tengah seribu dua ribu hal-hal, barang-barang, pekerjaan-pekerjaan, target-target yang palsu. Manusia yang paling profesional adalah yang memiliki akar pengetahuan dan daya terapan untuk bersegera menggunakan ilmu orang tua tanpa menunggu usianya menjadi tua.

Manusia yang paling cerdas dan peka adalah yang mengerti bahwa segala sesuatu dalam kehidupannya harus diperbaiki sekarang juga, tidak besok atau lusa, karena bisa keburu mati. Bahwa apapun saja harus segera di-husnul-khatimah-i dan menghindarkan diri dari kemubaziran-kemubaziran mengurusi hal-hal yang semu, palsu dan temporer.

Bahwa hutang harus segera dibayar. Bahwa kesalahan harus segera dihapuskan dengan meminta maaf kepada sesama manusia yang disalahi dan memohon ampun kepada Tuhan.

Bahwa omset ekonomi berapapun tidak menolong seseorang di garis kematiannya. Bahwa jabatan setinggi apapun tidak menambahi keberuntungan apapun di hadapan mautnya. Bahwa kejayaan, kemegahan dan kegagahan macam apapun tidak akan sanggup mengurusi nasibnya di depan sakaratul maut, yang akan muncul mendadak dan tiba-tiba.

caknun.com

Rabu, 02 Agustus 2017

KEWAJIBAN ISTRI DAN SUAMI DALAM ISLAM

"WANITA & LELAKI DI MATA HUKUM ISLAM"
Wanita perlu taat kepada suaminya, setelah itu baru kepada bapak dan ibunya.
Tapi tahukah, bahwa lelaki wajib taat kepada Ibunya 3x lebih utama dari pada kepada bapaknya ...
Wanita menerima warisan lebih sedikit dari pada Lelaki.
Tapi tahukah bahwa harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan, Ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk Isteri dan anak-anaknya ...
Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak.
Tapi tahukah bahwa setiap saat wanita didoakan oleh segala umat, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini. Serta jika ia mati karena melahirkan adalah Syahid niscaya Surga akan menantinya.
Di akhirat kelak, seorang lelaki akan mempertanggung jawabkan 4 wanita, yaitu:
1. Isterinya
2. Ibunya
3. Anak Perempuannya dan
4. Saudara Perempuannya
Artinya :
bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu :
1. Suaminya
2. Ayahnya
3. Anak Lelakinya dan
4. Saudara Lelakinya
Seorang wanita boleh memasuki pintu surga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya.. dengan syarat :
1. Shalat 5 waktu
2. Menutup Aurat
3. Puasa di bulan Ramadhan
4. Taat kepada Suaminya
Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggung jawabnya kepada ALLAH SWT, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata..
Di kirim khusus kepada wanita shalihah agar senantiasa :
@ Bersabar saat tertekan
@ Tersenyum di saat hati menangis
@ Diam saat terhina
@ Mempesona krn memaafkan
@ Mengasihi tanpa pamrih
@ Bertambah kuat di dlm doa dan pengharapan..
Dikirim untuk laki-laki agar senantiasa mencintai Isterinya, Ibunya, Anak Perempuannya dan Saudara perempuannya
10 Sifat Wanita Yang Mendatangkan Rezeki Bagi Suami.
Banyak suami yang mungkin tidak tahu bahwa rezekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peranan isteri
Memang tidak dapat dilihat dengan kasat mata, namun bisa dijelaskan secara spiritual bahwa 10 sifat isteri ini dapat MEMBANTU mendatangkan rezeki bagi suaminya.
1. Isteri yang pandai Bersyukur.
2. Isteri yang Tawakal kepada Allah.
3. Isteri yang baik pemagaman agamanya.
4. Isteri yang banyak Beristighfar
5. Isteri yang gemar Silaturahim.
6. Isteri yang suka Bersedekah.
7. Isteri yang Bertaqwa.
8. Isteri yang selalu Mendoakan Suaminya.
9. Isteri yang gemar Solat Dhuha.
10. Isteri yang Taat dan Melayani suaminya.

Facebook/MAJELIS KWITANG HABIB ALI AL-HABSYI

Rabu, 07 Juni 2017

Sikap Terbaik Islam Indonesia

Prof. Nasaruddin Umar,

Para hadirin sesuai dengan kondisi yang dihadapi bangsa sekarang.
Nasaruddin mengaku pernah mempelajari hadits yang dirasanya cocok dengan dinamika bangsa sekarang dan harus mencari-cari riwayat sahih hadits tersebut agar dia merasa yakin bisa disampaikan ke para pemimpin dan rakyat Indonesia, dan akhirnya dia temukan juga.
"Kita hanya menghukum apa yang tampak, jangan menghukum akidahnya orang. Mau aliran sesat atau aliran apapun juga, asalkan formalnya sudah bersyahadat, jangan dikorek-korek lagi," kata Nasaruddin menjelaskan hadits tersebut.
"Hanya Allah yang tahu apa yang tersembunyi dalam hati orang. Jadi kalau ada orang yang menghakimi akidahnya orang lain 'kamu itu aliran sesat' misalnya, saya ingin meningatkan kita semua jangan terlalu gampang mengaliransesatkan orang."
"Dan sebaliknya juga jangan terlalu gampang mengkafir-kafirkan orang, karena hadits Nabi mengatakan kalau kita mengkafirkan orang yang tidak kafir -- itu mental (memantul), kita yang jadi kafir. Tidak ada keuntungan untuk memvonis seseorang itu kafir atau sesat," ujar pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan itu.
Masyarakat Plural Kehendak Allah
Presiden dan hadirin yang lain tampak makin tekun menyimak tausiah kyai tersebut, ketika dia menyebutkan bahwa masyarakat heterogen yang terdiri atas berbagai suku atau agama seperti Indonesia adalah suatu keniscayaan yang dikehendaki Allah.
"Dalam masyarakat plural seperti kita, saya ingin mengingatkan sebuah ayat bahwa nggak mungkin kita akan bisa menyatukan umat dalam pengertian persatuan yang homogen. Ayatnya dalam surah An Nahl ayat 93," ujarnya.
-- Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. [QS An Nahl: 93] --
"Jadi mustahil kita bisa menciptakan masyarakat yang homogen di atas muka bumi ini, yang terjadi adalah masyarakat heterogen," jelas Nasaruddin, lulusan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
"Heterogenitas itu juga perlu bingkai, dan itulah sebetulnya Bhinneka Tunggal Ika yang dicerminkan dalam Quran."
"Quran tidak pernah mengisyaratkan perlunya ada persatuan dalam pengertian homogenitas di masyarakat."
"Membaca ayat ini, kalau orang paham Bahasa Arab, insya Allah dia akan berkesimpulan tidak mutlak kita harus menciptakan suatu masyarakat yang homogen (satu umat saja)."
"Masyarakat yang heterogen itu yang penting adalah bagaimana wai‘tashimuu bihabli allaahi jamii’an [QS Ali Imran: 103], berpegang teguh kepada sebuah tali, common platform, ini yang paling penting."
"Kita dinamisnya tidak mungkin bisa menyatukan menjadi satu Indonesia yang utuh dalam pengertian homogennya. Tetaplah menjadi sukunya masing-masing, tetapi yang paling penting adalah kita berpegang pada sebuah tali universal yang kita ikuti."
"Inilah yang dimaksud wai‘tashimuu bihabli allaahi jamii’an. Semuanya kalian harus berpegang teguh pada hanya satu tali. Kalau kita di sini itulah Pancasila. Ini perintah Quran, bukan perintah siapa-siapa."
beritasatu.com