Rabu, 07 Juni 2017

Sikap Terbaik Islam Indonesia

Prof. Nasaruddin Umar,

Para hadirin sesuai dengan kondisi yang dihadapi bangsa sekarang.
Nasaruddin mengaku pernah mempelajari hadits yang dirasanya cocok dengan dinamika bangsa sekarang dan harus mencari-cari riwayat sahih hadits tersebut agar dia merasa yakin bisa disampaikan ke para pemimpin dan rakyat Indonesia, dan akhirnya dia temukan juga.
"Kita hanya menghukum apa yang tampak, jangan menghukum akidahnya orang. Mau aliran sesat atau aliran apapun juga, asalkan formalnya sudah bersyahadat, jangan dikorek-korek lagi," kata Nasaruddin menjelaskan hadits tersebut.
"Hanya Allah yang tahu apa yang tersembunyi dalam hati orang. Jadi kalau ada orang yang menghakimi akidahnya orang lain 'kamu itu aliran sesat' misalnya, saya ingin meningatkan kita semua jangan terlalu gampang mengaliransesatkan orang."
"Dan sebaliknya juga jangan terlalu gampang mengkafir-kafirkan orang, karena hadits Nabi mengatakan kalau kita mengkafirkan orang yang tidak kafir -- itu mental (memantul), kita yang jadi kafir. Tidak ada keuntungan untuk memvonis seseorang itu kafir atau sesat," ujar pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan itu.
Masyarakat Plural Kehendak Allah
Presiden dan hadirin yang lain tampak makin tekun menyimak tausiah kyai tersebut, ketika dia menyebutkan bahwa masyarakat heterogen yang terdiri atas berbagai suku atau agama seperti Indonesia adalah suatu keniscayaan yang dikehendaki Allah.
"Dalam masyarakat plural seperti kita, saya ingin mengingatkan sebuah ayat bahwa nggak mungkin kita akan bisa menyatukan umat dalam pengertian persatuan yang homogen. Ayatnya dalam surah An Nahl ayat 93," ujarnya.
-- Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. [QS An Nahl: 93] --
"Jadi mustahil kita bisa menciptakan masyarakat yang homogen di atas muka bumi ini, yang terjadi adalah masyarakat heterogen," jelas Nasaruddin, lulusan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
"Heterogenitas itu juga perlu bingkai, dan itulah sebetulnya Bhinneka Tunggal Ika yang dicerminkan dalam Quran."
"Quran tidak pernah mengisyaratkan perlunya ada persatuan dalam pengertian homogenitas di masyarakat."
"Membaca ayat ini, kalau orang paham Bahasa Arab, insya Allah dia akan berkesimpulan tidak mutlak kita harus menciptakan suatu masyarakat yang homogen (satu umat saja)."
"Masyarakat yang heterogen itu yang penting adalah bagaimana wai‘tashimuu bihabli allaahi jamii’an [QS Ali Imran: 103], berpegang teguh kepada sebuah tali, common platform, ini yang paling penting."
"Kita dinamisnya tidak mungkin bisa menyatukan menjadi satu Indonesia yang utuh dalam pengertian homogennya. Tetaplah menjadi sukunya masing-masing, tetapi yang paling penting adalah kita berpegang pada sebuah tali universal yang kita ikuti."
"Inilah yang dimaksud wai‘tashimuu bihabli allaahi jamii’an. Semuanya kalian harus berpegang teguh pada hanya satu tali. Kalau kita di sini itulah Pancasila. Ini perintah Quran, bukan perintah siapa-siapa."
beritasatu.com

Rabu, 12 April 2017

Ahlusunahwaljamaah pecah?????

Tarim
Untuk kesekian kalinya, Departemen Pendidikan dan Dakwah Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Hadhramaut kembali mengadakan acara seminar ilmiah dengan mengangkat tema “Man hum Ahlussunnati wal Jama’ah? Wa Af’alu al-‘Ibad: Siapakah Ahlussunnah wal Jamaah? Dan Orientasi Perbuatan Seorang Hamba”. Acara kali ini berlangsung pada Jumat malam (19/2) di Auditorium Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Al-Ahgaff, Tarim, Hadhramaut, Yaman.

Seminar dengan dua tema pembahasan yang cukup berat ini sengaja mendatangkan dua narasumber yang memiliki kapabilitas dalam bidang masing-masing. Yang pertama Syekh Mukhtar Jamil seorang pakar muda dalam bidang ilmu hadits, dan kedua Habib Abdullah bin Ahmad Al-Jufri, spesialis dalam bidang ilmu teologi. Kedatangan kedua ulama muda ini merupakan satu peristiwa yang langka sekaligus kebanggaan bagi para pelajar Indonesia yang berada di Hadhramaut.

Pada awal pembahasan, Syekh Mukhtar mengatakan bahwa tujuan diskusi ini bukan untuk menebar kebencian di antara sekte-sekte keislaman yang telah ada. Ia menekankan, bahwa pertemuan ini hanya untuk mendeskripsikan serta mendudukkan suatu permasalahan pada tempatnya.

“Kami hanya ingin memberikan penamaan terhadap suatu perkara sesuai dengan kandungannya, bukan untuk menambah kebencian,” cetusnya.

Menurut Syekh Mukhtar, istilah Ahlussunnah wal Jamaah merupakan satu-satunya sekte yang beruntung dan terdiri dari satu golongan saja. Meskipun dari beberapa pandangan, Ahlussunnah wal Jamaah masih terbagi menjadi tiga bagian. Yaitu al-Muhadditsun, kelompok yang memprioritaskan dalil-dalil naqli (yang bersumber dari periwayatan) dalam pembahasan ilmu akidah. Ahlunnadzar al-Aqli, para penganut paham rasionalisme yang diperankan oleh Al-Maturidiyah dan Al-Asy’ariah. Dan yang ketiga adalah As-Sufiah, yaitu pengikut aliran sufisme. Ketika ditanya mengenai pemecahan yang terjadi pada tubuh Ahlussunnah wal Jamah sendiri, ia menandaskan bahwa hal itu tidak merusak statemen awal, bahwa Ahlussunnah wal Jamaah hanya terdiri dari satu golongan saja. Ia mencontohkan seperti satu universitas yang di dalamnya terdapat beberapa fakultas yang berbeda.

“Contoh konkretnya seperti Universitas Al-Ahgaff yang memiliki beberapa fakultas. Setiap fakultas tetap dinisbatkan terhadap Universitas Al-Ahgaff” tegasnya menambahkan.

Pada akhir penyampaiannya, Syekh yang merupakan jebolan Darul Musthafa ini menyatakan, bahwa semua empat madzhab yang ada (Hanafiah, Syafi’iah, Malikiah, dan Hanabilah) merupakan penganut paham Ahlussunnah wal Jamaah. “Setiap al-Madzahib al-Arba’ah (empat madzhab) termasuk dari paham Ahlussunnah wal Jamaah,” tuturnya.

Beralih terhadap tema pembahasan yang kedua, yaitu orientasi pekerjaan seorang hamba, Habib Abdullah bin Ahmad Al-Jufri tampil sebagai pembicara. Ulama muda yang merupakan santri Syekh Said Fudah ini sangat cekatan dalam penyampaiannya. Pertama-tama ia menyuguhkan perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama Ahlussunnah wal Jama`ah dan ulama Mu`tazilah perihal “perbuatan makhluk dan kaitannya dengan kehendaknya sendiri”, dikemukakan di dalamnya dalil-dalil yang menjadi landasan para ulama Ahlussunnah dan Mu`tazilah dalam berhujjah. Tidak hanya itu, ia juga menyampaikan perbedaan pendapat secara internal yang terjadi di kalangan ulama Ahlussunnah itu sendiri.

Pembicaraan yang cukup memeras otak para peserta seminar itu ia tutup dengan menukil perkataan Imam Abdullah Al-Haddad dalam bait-baitnya yang terkenal, yang artinya: “Dan hanya dengan taufiq Allah lah semuanya bisa melakukan ketaatan, maka mohonlah kepada Nya taufiq itu untukmu”.
NU ONLINE

Rabu, 05 April 2017

Uwais Al Qarni. Kelangit karna Ibu

Di Yaman, tinggallah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang soleh dan sangat berbakti kepadanya Ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaanIbunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan."Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji," pinta Ibunya.Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandusyang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seeokar anak lembu, Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi haji naik lembu. Ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. "Uwais gila.. Uwais gila..." kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendonglembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya.Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah!Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf diKa'bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah.Di hadapan Ka'bah, ibu dan anak itu berdoa. "Ya Allah, ampuni semua dosa ibu," kataUwais. "Bagaimana dengan dosamu?" tanya ibunya heran.Uwais menjawab, "Dengan terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga."Subhanallah, itulah keingananUwais yang tulus dan penuh cinta. Allah SWT pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuk? Itulah tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat utamaRasulullah SAW untuk mengenali Uwais.Beliau berdua sengaja mencari Uwais di sekitar Ka'bah karena Rasullah SAW berpesan, "Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Dia akan muncul di zaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia minta tolong dia berdua untuk kamu berdua.""Sesung
guhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan)."(HR. Bukhari dan Muslim)Riwayat Uwais Al-QorniPemuda bernama Uwais Al-Qarni. Ia tinggal dinegeri Yaman. Uwais adalah seorangyang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qarni adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mataibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai sanak family sama sekali.Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarni setiap hari.Uwais Al-Qarni terkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Uwais Al-Qarniseringkali melakukan puasa. Bila malam tiba, dia selalu berdoa, memohon petunjuk kepada Allah. Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarni setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah.Mereka telah bertemu denganNabi Muhammad, sedang ia sendiri belum pernah berjumpa dengan Rasulullah. Berita tentang Perang Uhud yang menyebabkan Nabi Muhammad mendapat cederadan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya, telah juga didengar oleh Uwais Al-Qarni.Segera Uwais mengetok giginya dengan batu hingga patah. Hal ini dilakukannya sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Nabi Muhammmad saw, sekalipun ia belum pernah bertemu dengan beliau. Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais untuk menemui Nabi saw semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad saw dan memandang wajah beliau daridekat? Ia rindu mendengar suara Nabi saw, kerinduan karena iman.Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah nabi Muhammad saw.Akhirnya, kerinduan kepada Nabi saw yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan mohon ijin kepada ibunya agar ia diperkenankan pergi menemuiRasulullah di Madinah.Ibu Uwais Al-Qarni walaupun telah uzur, merasa terharu dengan ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais Al-Qarni seraya berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”Betapa gembiranya hati UwaisAl-Qarni mendengar ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun, ia tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya
, serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.Uwais Ai-Qarni Pergi ke MadinahSetelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga dikota madinah. Segera ia mencari rumah nabi Muhammad saw. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qarni menanyakan Nabi saw yang ingin dijumpainya.Namun ternyata Nabi tidak berada dirumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al-Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah ra, istri Nabi saw. Betapa kecewanya hati Uwais.Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi saw, tetapi Nabi saw tidak dapat dijumpainya.Dalam hati Uwais Al-Qarni bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terngiang ditelinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, “engkau harus lekas pulang”.Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi saw. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al-Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah ra untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi saw. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkatmengay
unkan langkahnya dengan perasaan amat haru.Peperangan telah usai dan Nabi saw pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi saw menanyakankepada Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni anak yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi saw, Siti Aisyah ra dan para sahabat tertegun.Menurut keterangan Siti Aisyah ra, memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehinggaia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad saw melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit itu, kepada para sahabatnya., “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih ditengah talapak tangannya.”Sesudah itu Nabi saw memandang kepada Ali ra danUmar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan domba danunta setiap hari? Mengapa khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali ra, selalu menanyakan dia?Rombongan kalifah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongankalifah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kalifah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka.Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni ada bersama mereka,dia sedang menjaga unta-untamereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni.Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, khalifahUmar ra dan Ali ra memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam khalifah Umar ra dan Alira sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni.Wajah Uwais Al-Qarni tampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi saw bahwa dia itu adalah penghuni langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al-Qarni”.Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia barudapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan do'adan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkatakepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta do'a pada kalian.”Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datangkesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Seperti yang dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Ketika Uwais Al-Qarni WafatBeberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni berpulang kerahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya.Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, disana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan,luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarni adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, disitu selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarni? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”Berita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar ke mana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni disebabkan permintaan UwaisAl-Qarni sendiri kepada Khalifah Umar ra dan Ali ra, agar merahasiakan tentang dia.

Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah

disabdakan oleh Nabi saw,

bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.

Senin, 13 Maret 2017

BUNGKUS DAN ISI

HIDUP kerap kali disilaukan dengan sesuatu yang tampak kasat mata, remeh temeh, atau hal-hal yang terkesan menyenangkan. Mulai dari mengukur kemuliaan seseorang, menilai sesuatu, atau menentukan pilihan-pilihan hidup. Kita lupa bahwa jauh di belakang itu semua, sebenarnya ada ‘sesuatu’ yang bersemayam. Sesuatu itu terasa sublim, sejati, dan hakiki. Itulah yang disebut esensi, sejati, isi!

Ada banyak esensi di sekeliling kita yang mestinya kita gali, kita temukan, dan kita jadikan pegangan. Janganlah setiap hari kita disibukkan hanya mengejar bungkus atau kulit namun mengabaikan isi. Maka, mulai sekarang marilah kita belajar bersama membedakan mana yang sebenarnya hanya bungkus dan mana yang sesungguhnya isi.

X Rumah indah hanyalah bungkus, keluarga bahagia itulah isinya.

X Pesta pernikahan hanyalah bungkusnya, cinta kasih, pengertian, dan tanggung jawab itulah isinya.

X Ranjang mewah hanya bungkusnya, tidur nyenyak itu isinya.

X Kekayaan itu hanya bungkusnya, hati yang bahagia itu isinya.

X Makan enak hanya bungkusnya, gizi, energi, dan sehat itu isinya.

X Kecantikan dan ketampanan hanya bungkusnya, kepribadian dan hati itu isinya.

X Bicara itu hanya bungkusnya, kenyataan itu isinya.

X Buku hanya bungkusnya, pengetahuan itu isinya.

X Jabatan itu hanya bungkusnya, pengabdian dan pelayanan itu isinya.

X Pergi ke tempat ibadah itu bungkusnya, menjalankan ajaran agama itu isinya.

X Kharisma hanya bungkusnya, karakter itu isinya.

X Beragama hanya bungkusnya, berakhlak mulia itu isinya.

X Rejeki itu hanya bungkusnya, keberkahan itu isinya.

Maka utamakanlah isinya, namun rawatlah bungkusnya......

embunhikmah.com

Senin, 30 Januari 2017

Malaikat bingung???

Malaikat bingung dengan sholawat??

Rosululloh Shallallahu `alaihi Wa Sallam bersabda:

“Disaat aku tiba di langit di malam Isro’ Mi’roj, aku melihat satu malaikat memiliki 1000 tangan. Di setiap tangan ada 1000 jari, aku melihatnya menghitung jarinya satu persatu.
Aku bertanya kepada Jibril Alaihis Salam, pendampingku,
‘Siapa gerangan malaikat itu, dan apa tugasnya?.’
Jibril Alaihis Salam berkata,
Sesungguhnya dia adalah malaikat yang diberi tugas untuk menghitung tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi.
Rosululloh Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya kepada malaikat tadi,
‘Apakah kamu tahu berapa bilangan tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi sejak diciptakan Adam Alaihis Salam ?’.
Malaikat itupun berkata, ‘Wahai Rosulalloh Shallallahu `alaihi Wa Sallam, demi yang telah mengutusmu dengan hak (kebenaran), sesungguhnya aku mengetahui semua jumlah tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi dari mulai diciptakan Adam Alaihis Salam sampai sekarang ini, begitu pula aku mengetahui jumlah tetetas yang turun ke laut, ke darat, ke hutan rimba, ke gunung-gunung, ke lembah-lembah, ke sungai-sungai, ke sawah-sawah dan ke tempat yang tidak diketahui manusia”
Mendengar uraian malaikat tadi,
Rosululloh Shallallahu `alaihi Wa Sallam sangat takjub dan bangga atas kecerdasannya dalam menghitung tetesan air hujan.
Kemudian malaikat tadi berkata kepada beliau :
“Wahai Rosulalloh, walaupun aku memiliki seribu tangan dan sejuta jari dan diberikan kepandaian dan keulungan untuk menghitung tetesan air hujan yang yang turun dari langit ke bumi, tapi aku memiliki kekurangan dan kelemahan”.
Rosulalloh Shallallahu `alaihi Wa Sallam pun bertanya,
“Apa kekurangan dan kelemahan kamu?.
Malaikat itupun menjawab, “kekurangan dan kelemahanku, wahai Rosulalloh,
Jika umatmu berkumpul di satu tempat,
mereka menyebut namamu lalu BERSHOLAWAT atasmu,
pada saat itu aku tidak bisa menghitung berapa banyaknya pahala yang diberikan Alloh Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka atas sholawat yang mereka ucapkan atas dirimu”.
مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً ، صَلى اللهُ عليه عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطياتٍ ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجَاتٍ
“Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali
maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali,
dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya,
serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)”’
[HR an-Nasa’i (no. 1297), Ahmad (3/102 dan 261), Ibnu Hibban (no. 904) dan al-Hakim (no. 2018), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi, juga oleh Ibnu hajar dalam “Fathul Baari” (11/167)] via serambimata.com
Gusdurfiles.com

Senin, 16 Januari 2017

Resep Agar solat khusyu'

Resep Agar Bisa Khusyu’ ”
Seorang bertanya pada Sayyidil Habib Umar bin Hafidz, “Bagaimana agar kita bisa khusyu’?”

Sayyidil Habib Umar bin Hafidz menjawab: ”
Seseorang di katakan khusyu’ jika memenuhi 6 kriteria, yaitu:

1. (Hudurul Qolb) Hadirnya hati
hadirnya hati harus di latih terus-menerus, bila hati kemana-mana paksa untuk kembali lagi, Insya Allah , hati akan terbiasa hudhur

2. (Tafahhumul Ma’ani) Memahami arti atas apa yang kita katakan dan kita sedang lakukan

3. (Al ijlal watta’dzhim ) Adanya rasa mengagungkan dan memulyakan kepada Allah SWT.  Terkadang kita hadir hati, mengetahui arti, tapi tanpa pengagungan hal ini seperti seseorang yang memahami perkataan anak kecil yaitu tidak terlalu menghiraukannya

4. (Al ijlal watta’dzhim ma’al Haibah) Hendaknya rasa memulyakan dan pengagungan tadi di iringi dengan rasa haibah (kewibawaan).

Haibah: Rasa takut yang timbul karena rasa
mengagungkan. Takut sholat kita tidak di terima oleh Allah

5. ar-Roja’: Kuatnya harapan bahwa sholat kita di terima oleh Allah juga menjadi sebab dekatnya kita pada allah serta mengharapkan mendapat balasan yang agung

6. Haya’: Adanya rasa malu bahwasannya kita tidak menunaikan hak Allah dengan semestinya.

Kemudian Habib Umar mengatakan, “Jika enam kriteria ini terdapat padamu maka sholatmu bisa di katakan sholat yang khusyu’.”

Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq kepada kita sehingga bisa mengamalkan resep yang ada di atas ini.

Mudah-mudahan Allah menjadikan kita orang-orang yang khusyu’ dalam sholat..aamiin

oleh hamba Allah
Wallahu`alam
“Allahumma shalli alaa ruuhi sayyidina muhammadin fil arwah, wa ‘ala Jasadihi filajsaad, wa alaa Qabrihi
filqubuur”
santri.net

Rabu, 11 Januari 2017

Kenali Alloh atau??

                          KENALI ALLOH SWT
Jika kamu membenci orang
karena dia tidak bisa membaca al-Qur'an, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi AL -QURAN

Jika kamu memusuhi orang yang berbeda
Agama dengan kamu, berarti yang kamu
pertuhankan itu bukan Allah, tapi AGAMA.

Jika kamu menjauhi orang yang melanggar moral, berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah, tapi  MORAL.

Maka Pertuhankanlah Allah, bukan yang lainnya.......

Dan pembuktian bahwa kamu mempertuhankan Allah, kamu harus menerima semua makhluk.
Karena begitulah Allah S.W.T

                          Gus Dur

meme islami.com